Kamis, 18 Juli 2013

ORAL SEX

Pertanyaan : Sebenarnya saya malu untuk bertanya tentang hal ini akan tetapi saya sangat perlu tahu tentang hukum oral seks (maaf : yaitu istri mengisap/menjilat kemaluan suami atau sebaliknya). Tolong dijelaskan dengan jelas, karena saya mendengar ada yang mengharamkan namun ada juga yang membolehkan.

Jawab :

Sesungguhnya permasalahan ini –oral seks- merupakan permasalahan yang sangat menimbulkan rasa malu untuk dibicarakan. Akan tetapi mengingat terlalu banyak yang bertanya tentang permasalahan ini maka perlu penjelasan yang lebih dalam tentang hukum oral seks.

Sebagian ulama membolehkan oral seks dan sebagian ulama yang lain mengharamkannya.


Dalil para ulama yang membolehkan :

Pertama : Keumuman firman Allah

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki" (QS Al-Baqoroh : 223)

Ayat ini menunjukkan seorang suami berhak melakukan segala cara jimak dalam menikmati istrinya kecuali ada dalil yang melarang seperti menjimak wanita yang haid dan nifas atau menjimak wanita di duburnya.

Kedua : Keumuman sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wanita haid

اِصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ

"Lakukanlah segala sesuatu kecuali menjimak kemaluan (yang lagi haid)" (HR Muslim no 302)

Demikian pula hadits ini menunjukkan seorang lelaki diperbolehkan melakukan segala bentuk bersetubuh terhadap wanita yang haid (termasuk jika sang wanita mengoral dzakarnya). Yang dilarang adalah menjimak kemaluan istrinya yang sedang mengeluarkan najis, yaitu darah haid.

Ketiga : Adapun kekhawatiran keluarnya najis tatkala terjadi proses oral seks, maka jawabannya, tidak ada seorangpun yang membolehkan mencium kemaluan pasangannya tatkala keluarnya najis. Akan tetapi pembicaraan kita tatkala najis telah berhenti. Seseorang haram untuk sholat menghadap Allah tatkala sedang keluar najisnya dari kemaluannya, akan tetapi setelah beristinjaa dan berhenti najisnya maka ia boleh sholat menghadap Allah. Hal ini menunjukkan bahwa najis ada waktu berhenti keluarnya dari kemaluan, dan tatkala itulah baru diperbolehkan seseorang untuk mencium kemaluan pasangannya.

Keempat : Cara oral seks yang digandrungi oleh sebagian pasangan membantu mereka untuk menjaga kemaluan mereka, sehingga mereka bisa berfantasi dengan sesuatu yang halal dan tidak butuh mencari yang haram.



Dalil Para Ulama Yang Mengharamkan Oral Seks


Pertama : Sikap oral seks adalah meniru-niru perbuatan orang-orang barat, terutama para pezina dan pemain film porno. Dan kita dilarang mengikuti adat kebiasaan orang kafir yang merupakan kekhususan mereka.

Kedua : Oral seks adalah mengikuti gaya binatang, karena kita dapati sebagian binatang jantang menjilat kemaluan binatang betina

Ketiga : Mulut adalah anggota tubuh yang mulia yang digunakan untuk membaca Al-Qur'an dan berdzikir kepada Allah, bagaimana bisa digunakan untuk menjilat kemaluan pasangannya

Keempat : Madzi (yaitu cairan yang keluar dari kemaluan tatkala timbul syahwat) adalah najis menurut jumhur ulama. Dan sudah jelas jika seorang wanita menjilat dzakar suaminya maka sudah bisa dipastikan ia akan menjilat madzi tersebut.

Terlebih lagi lelaki yang menjilat bagian dalam vagina wanita, maka sangat bisa dipastikan ia akan menjilat sisa-sisa air kencing sang wanita.

Kelima : Berdasarkan penelitian kedokteran modern menyebutkan bahwa dalam vagina wanita ada bakteri-bakteri yang bisa berpindah ke lidah seorang lelaki yang menjilat vagina tersebut, dan juga sebaliknya ada bakteri-bakteri yang terdapat di mulut lelaki yang bisa berpindah ke vagina sang wanita tatkala terjadi proses penjilatan vagina wanita. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda;

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

"Tidak boleh memberi kemudhorotan kepada diri sendiri dan juga kepada orang lain".

Bahkan sebagian penelitian menyebutkan proses oral seks bisa menimbulkan kanker.



Pendapat Yang Terpilih??

Timbul kelainan-kelainan seksual di kalangan kaum kafir barat. Tatkala mereka menyalurkan syahwat mereka pada perkara-perkara yang haram maka jadilah mereka kehilangan rasa kepuasan dengan cara-cara yang halal dan yang sesuai dengan fitroh dan harkat kemanusiaan. Sehingga timbullah kelainan-kelainan seksual, seperti homo seksual, hubungan seks dengan cara kasar, bahkan dengan menyakiti pasangannya agar timbul kepuasan. Bahkan sebagian mereka hanya bisa puas jika berjimak dengan hewan peliharaannya, wal'iyaadzu billah.

Yang sangat menyedihkah –setelah tersebarnya video, para bola, dan internet- maka banyak kaum muslimin yang menonton tayangan-tayangan film porno. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya larisnya praktek oral seks dikalangan kaum muslimin setelah larisnya tayangan-tayangan tersebut. Dari sinilah sangat jelas hikmah dari firman Allah

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya" (QS An-Nuur : 30-31)

Diantara akibat buruk dari menyaksikan tayangan-tayangan seperti ini adalah:

- Hilangnya rasa malu karena terlalu sering menyaksikan aurot para pezina

- Hilangnya rasa cemburu dari hati kedua pasangan, bagaimana tidak?, sementara sang istri membiarkan sang suami berledzat-ledzat menonton aurot para wanita pezina pelaku film-film porno tersebut. Demikian juga sang suami membiarkan sang istri berledzat-ledzat melihat aurot para lelaki barat pezina dalam tayangan film-film porno tersebut.

- Hilangnya rasa kepuasan terhadap pasangannya. Masing-masing berangan-angan pasangannya bisa seperti tokoh yang ia saksikan dalam tayangan-tayangan film porno tersebut. Dan diantara sebab timbul banyaknya perceraian adalah akibat menyaksikan tayangan-tayangan film porno. Sungguh Allah telah memberikan kepuasan kepada sang lelaki dengan istri yang halal, akan tetapi tatkala ia menyaksikan film-film porno maka dicabutlah rasa kepuasan tersebut, bahkan ia berangan-angan untuk bisa berzina dengan wanita barat pezina yang dia lihat dalam tayangan porno tersebut agar bisa berfantasi dengannya. Wal'iyaadzu billah.

- Hilangnya rasa kepuasan dengan cara berhubungan seksual yang sesuai dengan fitroh manusia. Betapa banyak lelaki yang sangat ingin mempraktekkan anal seks (berjimak lewat dubur) setelah menonton tayangan-tayangan seperti ini. Betapa banyak para wanita yang ingin digerayangi lebih dari seorang lelaki setelah menyaksikan tayangan-tayangan tersebut.

Tidak diragukan lagi bahwasanya tersebarnya praktek oral seks di kalangan kaum muslimin adalah setelah tersebarnya tayangan-tayangan tersebut. Bagaimanakah hukum syar'i tentang praktek oral seks ini?

Tentu yang lebih hati-hati adalah meninggalkan praktek oral seks. Mereka yang selalu menjaga pandangan mereka dan bisa meraih kepuasan dengan cara-cara seks yang sesuai dengan fitroh dan harkat manusia maka hendaknya mereka memuji dan bersyukur kepada Allah. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri betapa banyak kaum pria muslim yang tidak bisa merasakan kepuasan kecuali dengan praktek oral seks –terutama setelah menyaksikan tayangan film porno-. Maka apakah boleh bagi mereka untuk mempraktekan oral seks bersama istrinya yang halal??!!

Jika kita memperhatikan perkataan para fuqohaa (ahli fiqh) terdahulu maka kita dapati isyarat akan bolehnya praktek oral seks meskipun praktek tersebut merupakan perkara yang qobiih (buruk). Untuk menjelaskan hal ini mari kita renungkan poin-poin berikut :

Pertama : Praktek kelainan-kelainan seksual seperti menjimak istri melalui dubur, atau menjimak hewan telah tersebutkan oleh para fuqohaa terdahulu dalam kitab-kitab fiqih mereka. Demikian pula praktek oral seks juga telah diisyaratkan dalam buku-buku fiqih terdahulu, bahkan diisyaratkan oleh Imam As-Syafi'i. Beliau rahimahullah berkata :

وَلَوْ نَالَ من امْرَأَتِهِ ما دُونَ أَنْ يُغَيِّبَهُ في فَرْجِهَا ولم يُنْزِلْ لم يُوجِبْ ذلك غُسْلًا وَلَا نُوجِبُ الْغُسْلَ إلَّا أَنْ يُغَيِّبَهُ في الْفَرْجِ نَفْسِهِ أو الدُّبُرِ فَأَمَّا الْفَمُ أو غَيْرُ ذلك من جَسَدِهَا فَلَا يُوجِبُ غُسْلًا إذَا لم يُنْزِلْ

"Kalau seandainya sang suami menggauli istrinya tanpa membenamkan dzakarnya ke farji (kemaluan) istrinya dan ia tidak mengeluarkan air mani maka hal ini tidak mengharuskannya mandi (janabah). Dan kami tidak mewajibkan mandi janabah kecuali jika ia memasukan dzakarnya ke kemaluan istrinya atau duburnya. Adapun mulut (istrinya) dan anggota tubuh istrinya yang lainnya maka tidak mewajibkan mandi jika ia tidak mengeluarkan air mani" (Al-Umm 1/37)

Yaitu dzohirnya seakan-akan Imam Syafii menjelaskan bahwa jika seorang lelaki memasukan kemaluannya di mulut istrinya atau bagian tubuh yang lain (seperti diantara dua paha, atau dua payudara, atau dua belahan pantat) maka tidak mewajibkan mandi junub kecuali jika sang lelaki mengeluarkan mani. Hal ini berbeda jika ia memasukan dzakarnya ke vagina wanita atau duburnya, meskipun tidak sampai mengeluarkan mani maka tetap wajib untuk mandi junub.

Namun kenyataannya kita tidak mendapati penjelasan fuqohaa terdahulu yang panjang lebar tentang hukum oral seks.

Kedua : Para ulama sepakat akan bolehnya menyentuh kemaluan istri.

Ibnu 'Abidin Al-Hanafi berkata

سَأَل أَبُو يُوسُفَ أَبَا حَنِيفَةَ عَنِ الرَّجُل يَمَسُّ فَرْجَ امْرَأَتِهِ وَهِيَ تَمَسُّ فَرْجَهُ لِيَتَحَرَّكَ عَلَيْهَا هَل تَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا ؟ قَال : لاَ ، وَأَرْجُو أَنْ يَعْظُمَ الأَْجْرُ

"Abu Yuusuf bertanya kepada Abu Hanifah –rahimahullah- tentang seseorang yang memegang kemaluan istrinya, dan sang istri yang menyentuh kemaluan suaminya agar tergerak syahwatnya kepada sang istri, maka apakah menurutmu bermasalah?. Abu Hanifah berkata, "Tidak mengapa, dan aku berharap besar pahalanya" (Haasyiat Ibni 'Aabidiin 6/367, lihat juga Al-Bahr Ar-Raaiq syarh Kanz Ad-Daqooiq 8/220, Tabyiinul Haqoo'iq 6/19)

Ketiga : Pernyataan sebagian fuqohaa yang menunjukkan akan bolehnya mencium kemaluan (vagina) wanita. Hal ini sangat ditegaskan terutama di kalangan para ulama madzhab Hanbali, dimana mereka menjelaskan akan bolehnya seorang suami mencium kemaluan istrinya sebelum berjimak, akan tetapi hukumnya makruh setelah berjimak (lihat Kasyaaful Qinaa' 5/16-17, Al-Inshoof 8/27, Al-Iqnaa' 3/240)

Keempat : Bahkan ada sebagian fuqohaa yang menyatakan bolehnya lebih dari sekedar mencium. Yaitu bahkan dibolehkan menjilat kemaluan sang istri.

Al-Hatthoob rahimahullah berkata:

قَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ قَال : لاَ بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الْفَرْجِ فِي حَال الْجِمَاعِ ، وَزَادَ فِي رِوَايَةٍ : وَيَلْحَسَهُ بِلِسَانِهِ ، وَهُوَ مُبَالَغَةٌ فِي الإِْبَاحَةِ ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ عَلَى ظَاهِرِهِ

"Telah diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwasanya ia berkata, "Tidak mengapa melihat kemaluan tatkala berjimak". Dan dalam riwayat yang lain ada tambahan, "Ia menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya".

Dan ini merupakan bentuk mubaalaghoh (sekedar penekanan) akan bolehnya, akan tetapi bukan pada dzhohirnya" (Mawaahibul Jaliil 5/23)

Al-Malibaariy Al-Fanaaniy (dari kalangan ulama abad 10 hijriyah) dari madzhab As-Syafi'iyah berkata:

يَجُوزُ لِلزَّوْجِ كُل تَمَتُّعٍ مِنْهَا بِمَا سِوَى حَلْقَةِ دُبُرِهَا ، وَلَوْ بِمَصِّ بَظْرِهَا

"Boleh bagi seorang suami segala bentuk menikmati istrinya kecuali lingkaran dubur, bahkan meskipun mengisap kiltorisnya" (Fathul Mu'iin bi Syarh Qurrotil 'Ain bi Muhimmaatid diin, hal 482, terbitan Daar Ibnu Hazm, cetakan pertama tahun 1424 H-2004 H, Tahqiq : Bassaam Abdul Wahhaab Al-Jaabi)

Kelima : Saya belum menemukan dari kalangan fuqohaa terdahulu yang mengharamkan mencium atau menjilat kemaluan pasangan. Adapun dua pendapat yang saya paparkan di awal artikel ini adalah dalil-dalil yang disebutkan oleh para ahlul ilmu zaman sekarang. Diantara para ulama yang mengharamkan oral seks adalah Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albaani rahimahullah. Adapun diantara para ulama yang memandang oral seks adalah perbuatan yang buruk hanya saja hukumnya tidak sampai haram adalah Syaikh Al-Jibriin rahimahullah (sebagaimana dinukil di internet, diantaranya di http://www.ksasound.com/vb/showthread-t_1991.html atau dihttp://arb3.maktoob.com/vb/arb65515/)

Meskipun hati ini condong akan haramnya oral seks mengingat sulitnya terhindar dari menjilat madzi, akan tetapi karena saya hanya menemukan perkataan fuqohaa terdahulu yang membolehkan oral seks maka saya berhenti pada pendapat mereka.

Keenam : Meskipun tidak ada pernyataan dari fuqohaa terdahulu akan haramnya oral seks akan tetapi terdapat pernyataan mereka yang menunjukkan bahwa oral seks merupakan perbuatan yang qobiih (buruk).

Sebagian ulama Malikiyah (seperti Muhammad Al-'Uthbiy) tatkala menukil perkataan Imam Malik diatas ("Tidak mengapa melihat kemaluan tatkala berjimak". Dan dalam riwayat yang lain ada tambahan, "Ia menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya), maka Al-'uthbiya membuang perkataan Imam Malik "Ia menjilat kemaluan istrinya dengan lidahnya", karena Al-'Uthbiy memandang ini adalah perbuatan yang buruk (lihat Al-Bayaan wa At-Tahsiil 5/79). Akan tetapi maksud dari Imam Malik tatkala menyebutkan lafal tersebut adalah untuk penegasan akan bolehnya memandang kemaluan istri tatkala berjimak. Al-Qoodhi Abu al-Waliid Muhammad bin Rusyd rahimahullah berkata :

إِلاَّ أَنَّ الْعُلَمَاءَ يَسْتَجِيْزُوْنَ مِثْلَ هَذَا إِرَادَةَ الْبَيَانِ ، وَلِكَيْلاَ يَحْرُمُ مَا لَيْسَ بِحَرَامٍ ، فَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الْعَوَامِّ يَعْتَقِدُوْنَ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى فَرْجِ امْرَأَتِهِ فِي حَالٍ مِنَ الْأَحْوَالِ. وَقَدْ سَأَلَنِي عَنْ ذَلِكَ بَعْضُهُمْ فَاسْتَغْرَبَ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ جَائِزاً وَكَذَلِكَ تَكْلِيْمُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ عِنْدَ الْوَطْءِ، لاَ إِشْكَالَ فِي جَوَازِهِ وَلاَ وَجْهَ لِكَرَاهِيَتِهِ

"Hanya saja para ulama membolehkan seperti ini dalam rangka penjelasan, sehingga tidak diharamkan perkara yang tidak haram. Karena banyak orang awam yang meyakini bahwasanya tidak boleh seseorang melihat kemaluan istrinya dalam kondisi apapun. Sebagian mereka telah bertanya kepadaku tentang hal ini, dan mereka heran kalau hal ini diperbolehkan. Demikian pula seseorang boleh berbicara dengan istrinya tatkala berjimak, tidak ada masalah dalam hal ini dan tidak ada sisi makruhnya" (Al-Bayaan wa At-Tahshiil 5/79)

Ketujuh : Bagi mereka yang terlanjur ketagihan dengan praktek oral seks hendaknya berusaha meninggalkan praktek tersebut sedikit demi sedikit. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa ditinggalkan kecuali jika mereka juga meninggalkan menyaksikan tayangan-tayangan film porno.

Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita semua.


Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 13-04-1433 H / 06 Maret 2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com

Jumat, 14 Juni 2013

Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu

by Ibnu Qoyyim Al JAuziyah

CINTA merupakan perasaan yang Allah SWT anugerahkan kepada insan manusia. Namun terkadang manusia tidak mengerti hakikat cinta yang sesungguhnya. Beberapa yang terjadi justru manusia lebih mencintai pasangannya ketimbang sang pemberi cinta.

Cinta adalah kata yang sudah sangat sering dirasakan, diucapkan, dibicarakan dan banyak peristiwa yang mewarnai kehidupan bani adam dengan atas nama cinta, sehingga sudah tidak asing lagi dan mungkin tidak perlu definisi. Hanya saja disini akan sedikit diulas tentang kandungan maknanya dan beberapa macam pembagian jenis-jenis cinta agar lebih bisa membedakan dan lebih mengenal makna arti cinta sejati

Cinta dalam bahasa arab umumnya menggunakan kata habba-yuhibbu "حُبُّ"  hubbun, terdiri dari huruf (ح) ha dan  (ب) ba, dan memang sepertinya kata inilah yang tepat untuk menggambarkan maksud atau makna cinta. Ada banyak makna tergantung kepada apa disandarkan atau dinisbahkan. Bisa bermakna menyukai, menyenangi, menginginkan, menghendaki, menggemari, memenuhi, mengutamakan, mengasihi, menyayangi, memilih, ramah.

Selain itu ketika disebutkan kata "cinta" maka makna yang pertama kali muncul pada pikiran seseorang akan berbeda-beda tergantung kondisi zaman atau masa ketika itu, opini yang berkembang ketika itu, dan juga konteks pembicaraan dan pengetahuan orang tersebut.

Dan Al-Imam Ath-Thohawy dalam syarah aqidah ath-thohawiyah menyebutkan ada sepuluh tingkatan cinta (al-mahabbah) dengan maknanya masing-masing.  Adapun Al-Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin, 3/9 mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” Wallahu a'lam, demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah.


Memahami Makna Cinta, Cinta Yang Sempurna, Tujuh Tingkatan Cinta Dan Cinta Yang Tertinggi Derajatnya Bagi Si Pemilik Cinta



Umar bin Khothob pernah berkata kepada Rasulullah : ”Wahai Rasulullah sesungguhnya Engkau lebih aku cintai daripada seluruh manusia kecuali diriku sendiri.”

Rasulullah menjawab : ”Tidak wahai Umar. Hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Rasulullah memberi petunjuk agar Umar mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan puncak cintanya. Dan inilah cinta yang sempurna.

Setelah memahami makna cinta, untuk itu marilah menelusuri tingkatan-tingkatan cinta.
Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah berkata sesungguhnya cinta memiliki 7 tingkatan, di antaranya adalah :

’Alaqoh
Makna ’alaqoh adalah ikatan atau bisa juga diartikan dengan kecenderungan hati.
Disebut ’alaqoh karena orang tersebut memiliki hubungan atau ikatan dengan yang dicintainya.
Pada sebuah syair disebutkan :
Engkau telah membuatku terpikat, tertambat dan terikat, sejak pertama aku melihat. 

Ash-Shobabah
Secara harfiah dapat diartikan dengan menuangkan, mengalirkan atau kerinduan.
Disebut ash-shobabah karena hati orang tersebut dia curahkan dan dia tumpahkan kecintaannya kepada orang yang dicintainya.

Al-Ghorom
Artinya amat menyukai atau tertambat hatinya.
Yaitu melekatnya kecintaan dalam hatinya sampai cintanya tidak akan dipisahkan dari sesuatu yang dia cintai.
Seperti kata pepatah :
Bila cinta sudah melekat, gula jawa berasa coklat.

Al-IsyQ
Artinya sangat cinta (tertambat hatinya) kepada ……….., menempel, melekat.
Dari sini diturunkan pula kata : al-’asyaqoh yang artinya tumbuh-tumbuhan yang melilit pada pohon. (nah. Jadi jelas, kan, maksudnya)
Yaitu rasa cinta yang berlebihan dan mengandung syahwat. Oleh karena itu Allah tidak boleh disifati dengannya dan tidak boleh memberikan kalimat ini untuk Allah.

Asy-SyauQ

Maknanya cinta yang bergelora, menyandarkan.
Yaitu perginya hati kepada sesuatu yang dia cintai dengan sepenuhnya.

Rasulullah bersabda :

Barang siapa yang berharap ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun akan berjumpa dengannya. [HR. Bukhori : 4/75 dan 7/65]

Allah ta’ala berfirman :
Barang siapa yang berharap (untuk) berjumpa dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. [QS. Al-Ankabut : 5]

Tatkala Allah mengetahui bahwa wali-wali Allah sangat merindukan untuk berjumpa dengan-Nya, hati-hati mereka tidak akan pergi kecuali kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengumpamakan kepada mereka tentang waktu yang telah dijanjikan. Sehingga hati hambanya merasa tenang.

At-Tatayyum
Artinya memperbudak, menundukkan, menguasai.
Yaitu penghambaan atau pemujaan seseorang terhadap yang dia cintai. Di dalamnya mengandung makna ketundukan dan menghinakan dirinya terhadap yang dicintai.
Oleh karenanya keadaan yang paling mulia bagi seorang hamba adalah al-Ubudiyyah yaitu penghambaan dan tidak ada tingkatan yang lebih mulia daripada itu.

Al-Khullah
Al khullah adalah kecintaan yang paling sempurna dan penghabisannya, sehingga tidak tersisa sedikitpun kecuali dia curahkan kepada yang dia cintai. Ini adalah kedudukan yang mulia khusus kepada Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad.

Sebagaimana sabda Rasulullah :
Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai khalil (hamba yang paling dicintai Allah) sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil. [HR. Muslim : 1216]

Pertanyaannya sekarang : seberapa besar porsi cinta yang kita persembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya?

Disadur dari buku ”Mayat-mayat Cinta” karya ’Amr bin Suroif al-Indunisy

Sementara jika diurutkan tingkatan dari jenis cinta tersebut, dari sumber yang berbeda kita akan menjumpai informasi sebagai berikut :

Menurut Ibnu Qayyim dalam bukunya yang berjudul "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu" ada enam tingkatan cinta, yaitu:

1. Peringkat pertama adalah Tatayyum
Tingkatan cinta yang paling tinggi dan merupakan hak Allah SWT, "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan- tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu (Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah) mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (Qs.2:65) Allahlah yang paling utama tiada tandingan tak ada bandingan. Posisinya tidak boleh digeser menjadi nomer dua atau bahkan tiga.Cinta kita kepada-Nya harus menjadi puncak dari segala cinta yang kita miliki.

2. Peringkat kedua adalah 'Isyk
Cinta ini hanya merupakan hak Rasulullah SAW. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll. Namaun, bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Kita mencintai Rasulullah dengan segenap konsekuensinya. Kita akan dengan bangga menjalankan sunnah-sunnahnya dan mengkuti petunjuknya dalam mengamalkan agama ini. Kita juga akan mencintai khidupannya yang luhur dan penuh amal shalih. Kita rindu berjumpa dengannya karena kemuliaan yanga ada pada diri beliau. Namun, kecintaan kita bukanlah menuntut pada diri beliau. Namun, kecintaan kita bukanlah menuntut sebuah penghambaan. Kecintaan menuntut sebuah amal yang bisa meneladani akhlaknya. Cinta kita kepada Rasulullah mendorong kita untuk membela agama ini dengan kekuatan yang kita miliki. Demikian juga membela sunnahnya bila sunnahnya diinjak-injak oleh orang lain. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.3:31)

3. Peringkat ketiga adalah Syauq
yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami isteri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah. Seorang suami harus mencintai isterinya dengan sepenuh hati. Demikian pula si isteri harus memberi cintanya kepada suaminya. Cinta yang tumbuh pada diri mereka akan menambah ketentraman hati dan ketenangan jiwa. Hidup akan lengkap, karena saling mengerti dan memahami. Manakala terjadi konflik atau perbedaan pendapat, akan mudah diselesaikan karena aspek cinta mereka yang begitu besar. Kadang boleh saja emosi meninggi, namun ia akan menjadi redam ketika cinta menjadi pertimbangan utama. Seorang ayah yang begitu perhatian kepada anaknya, mencurahkan cintanya kepada buah hatinya. Dia menyayangi nya dan rela bekerja siang dan malam untuk anak-anaknya. Selain karena ibadah kepada-Nya, dia melakukannya juga karena cinta.

4. Peringkat ke empat adalah Shababah
yaitu cinta sesama muslim yang melahirka ukhuwah Islamiyah. Cinta ini menuntut sebuah kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebagai sebuah hikmah yang berharga. Seperti kita ketahui saat ini sedikit perbedaan saja seringkali menimbulkan perpecahan. Berbeda takbiratul ihram, berbeda gerakan shalat, berbeda hari Idul Fitri atau Idul Adha kadang tidak disikapi secara dewasa. Sehingga masalah pun muncul dan membuat jurang pemisah yang teramat dalam antar pengikutnya. Belum lagi kalau kita lihat betapa banyaknya kelompok harakah Islamiyah yang bermunculan. BIla cinta ini ada, insya Allah segala perbedaan bisa disinergiskan. Tidak semua perbedaan harus dipaksa sama, tapi kadang hanya membutuhkan sedikit pengertian saja. Cinta ini harus dimunculkan sebagai sebentuk upaya untuk menciptakan kenyamanan hubungan dalam tubuh umat Islam.

5. Peringkat kelima 'Ithf (simpati)
yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, termasuk pula di dalamnya adalah berdakwah. Rasa ini seringkali muncul bila sisi kemanusian kita tersentuh. Di saat melhiat seorang anak kecil di sebuah gubuk dengan wajah penuh penderitaan, atau saat melihat korban musibah bencana alam berjatuhan, tentu saja mengetuk kepedulian kita yang terdalam. Sisi kemanusiaan kita menjadi tersentuh dan ingin menitikkan air mata. Hati kita tidak tega melihat sebuah penderitaan yang tak kunjung berakhir. Inilah bentuk simpati yang muncul dari hati yang paling dalam.

6. Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana
yaitu cinta atau keinginan selain kepada manusia:harta benda. Namun, seringkali keinginan ini sebatas intifa' (pendayagunaan/ pemanfaatan). Cinta jenis ini pula yang sering menggelincirkan manusia. Karena sifat harta memang selalu melenakan. Namun, bila kita cerdas,banyaknya harta benda seharusnya tidak menjadikan kita terlena. Sebaliknya, ia hanya menjadi sarana untuk meraih cinta yang sebenarnya yaitu cinta kepada Allah ta'ala.

Sumber Kutipan: Buku karya Burhan Sodiq dengan judul "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta!" Mengelola Cinta Tanpa Harus Terkena Dosa.

Ketika telah jelas, berikut ini adalah esensi dari pembagian cinta dari sudut pandang Islam :

Pembagian Cinta kepada Allah 
Berkata Ibnul qoyyim rahimahullah: Ada empat jenis cinta yang harus dibedakan masing-masingnya, dan akan sesatlah orang yang tidak dapat membedakannya.

1. Mencintai Allah 
dan tidak cukup dengan hal ini saja untuk dapat selamat dari adzab Allah dan mendapatkan pahalanya dikarenakan kaum musyrikin dan para ahli ibadah nashrani, yahudi dan selainnya juga mencintai Allah.

2. Mencintai perkara yang dicintai Allah, 
Kecintaan seperti adalah kecintaaan yang menggolongkan seseorang ke dalam islam, dan mengeluarkannya dari kekufuran dan orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling kuat dan kokoh kecintaannya dalam perkara ini.

3. Mencintai karena Allah 
Kecintaan ini adalah konsekwensi dari kecintaan kepada perkara yang dicintai Allah dan tidaklah tegak kecintaan kepada perkara yang dicintai Allah melainkan dengan kecintaan karena ikhlas kepada Allah dan karena mentaati Allah.

4. Kecintaan kepada sesuatu bersamaan dengan kecintaan kepada Allah  
yaitu kecintaan yang sama atau lebih dari kecintaan kepada Allah. Ini adalah kecintaan syirik dan semua orang yang mencintai sesuatu bersamaan dengan kecintaan kepada Allah bukan karena ikhlas kepada Allah dan bukan juga karena mentaati Allah, maka sungguh ia telah mensekutukan Allah. Inilah kecintaan kaum musyrikin.


Sementara itu, berikut ini adalah  Pembagian Cinta Berdasarkan Hukumnya 

1. Ibadah
yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada perkara yang dicintai Allah

Allah ta'ala berfirman: "adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah" [Al-baqaroh: 165]
Rasul shallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Tiga perkara yang apabila ada pada seorang hamba ia akan merasakan manisnya keimanan: (1)Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah (3) dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk di ceburkan ke dalam neraka [HR.Bukhori: 16, Muslim: 43]

2. Kesyirikan
yaitu cinta kepada selain Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah atau bahkan lebih
Allah berfirman: "Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan (Allah), yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah" [Al-Baqaroh: 165]

3. Kemaksiatan
yaitu mencintai perkara yang haram, kebid'ahan, kemaksiatan, serta mencintai pelaku kebid'ahan, dan pengikut hawa nafsu, dan yang lainnya dari kecintaan yang menyelisihi syariat.

Allah berfirman: "Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz [1] menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."

4. Mubah
yaitu cinta tabiat, seperti mencintai anak-anak, keluarga, jiwa, harta, makan, tidur, dan perkara-perkara lain yang dibolehkan syariat. Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖوَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[2] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Namun seharusnya kecintaan pada perkara ini hanya sebatas kecintaan tabiat yang manusiawi. Apabila perkara-perkara tersebut menyibukkan, atau memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah dan menjadikannya meninggalkan beberapa perkara yang diwajibkan, maka kecintaan seperti ini termasuk kecintan maksiat. Terlebih lagi apabila kecintaan ini sampai melampaui batas dalam kehidupannya dan hatinya dan dia mencintainya seperti mencintai Allah atau bahkan lebih, maka kecintaan ini menjadi kecintaan syirik (kesyirikan).[3]
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ مَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْخاسِرُونَ
"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi." [Al-Munaafiqun: 9]

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” [An Nur: 37]



# Pembagian Cinta Kepada Wanita
Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa cinta terhadap wanita ada tiga jenis:

1. Yang pertamaCinta sebagai amalan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) dan ketaatan.
Cinta ini seperti cinta seorang pria kepada istri dan budak wanitanya (jariyah). Ini adalah cinta yang bermanfaat, karena lebih kuat mengajak kepada tujuan disyariatkannya nikah oleh Allah, lebih menahan pandangan dan hati dari melihat-lihat kepada yang bukan istrinya. Oleh sebab itu pemilik cinta ini dipuji di sisi Allah dan manusia.

2. Yang kedua. Adalah cinta yang menjadi kemurkaan Allah dan jauh dari rahmat-Nya
Inilah cinta yang lebih berbahaya bagi seorang manusia terhadap dunia dan agamanya, yaitu cinta kepadamurdan (laki-laki berparas wanita, baik masih anak-anak atau remaja putra yang belum tumbuh janggut dan kumisnya). Tidaklah diuji dengan keadaan ini kecuali orang-orang yang memang jatuh derajatnya disisi Allah. Orang seperti ini diusir dari pintu-Nya, bahkan hatinya dijauhkan dari-Nya. Ini adalah tabir paling tebal antara seseorang dan Allah.

Sebagaiman kata sebagian salaf (pendahuluan yang shaleh), "Apabila seorang hamba sudah jatuh nilainya dalam pandangan Allah, niscaya Allah menimpakan bala kepadanya berupa perasaan cinta terhadap murdan."

Cinta seperti inilah yang membawa umat nabi Luth kepada apa yang mereka rasakan. Tidaklah mereka mengalaminya kecuali dari arah 'isyq ini. Allah berfirman:
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
"Demi umurmu (Muhammad) Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)"[al-Hijr: 72]

Kata 'isyq sendiri artinya ifrath fil mahabbah (berlebihan dalam mencintai), yakni berkuasanya ma'syuq (yang dicintai) atas hati 'asyiq (yang mencintai) hingga ma'syuq tidak pernah hilang sekejap pun dalam khayal dan pikirannya. Awalnya mudah dan manis. Di tengah, dia adalah kegelisahan dan kesibukan hati (memikirkan si dia) dan racun. Adapun akhir dari 'isyq ini adalah celaan dan pembunuhan apabila pelakunya tidak mendapatkan pertolongan atau perhatian dari Allah.

Obat penyakit ini adalah istighatsah kepada Yang membolak-balikkan hati, jujur mencari perlindungan kepada-Nya, menyibukkan diri dengan zikir kepada-Nya, mengganti cinta itu dengan cinta kepada-Nya, dan dekat kepada-Nya, memikirkan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh rasa 'isyq ini, kelezatan yang hilang karenanya, sehingga mengakibatkan kehilangan cinta yang lebih besar, mendapat sebesar-besar sesuatu yang tidak disukai.

Jika jiwa seseorang melangkah kepada perasaan tersebut, bahkan mengutamakannya hendaklah dia bertakbir  untuk jiwanya empat kali sebagaimana takbir shalat jenazah, karena hatinya telah mulai mati, atau telah mati. Hendaknya dia mengetahui bahwa petaka sedang mengepungnya.

3. Yang ketiga, adalah cinta yang mubah, yang tidak dapat dikuasai
Hal ini seperti cinta seseorang yang diberitakan kepadanya sosok wanita yang cantik atau dia melihatnya secara tidak sengaja, lalu hatinya terpikat dan menumbuhkan cinta. Rasa cinta itu tidak pula melahirkan satu kemaksiatan pun. Cinta seperti ini tidak mungkin dikuasai, tidak pula ada hukumnya. Tetapi, yang berguna dalam menghadapinya adalah menepisnya dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Wajib pula menyembunyikan dan menjaga kehormatan dirinya serta bersabar atas ujian yang diterimanya ini.

Kalau sudah demikian Allah akan memberinya pahala dan memberinya ganti karena kesabaran dan sikap 'iffah-nya (menjaga diri) serta menolak menaati hawa nafsunya dan lebih mendahulukan keridhaan Allah serta apa-apa yang ada disisi-Nya.

Demikianlah cinta-cinta yang kita baca. Semoga menjadi furqaan dalam hidup kita, dapat meluruskan niat hidup menjadi penjelas tujuan hidup kita di dunia. Maka orientasi manusia, sebagai hamba, sebagai umat, sebagai pribadi dalam lingkungan sosial adalah fokus untuk apa dan karena siapa.

Selasa, 11 Juni 2013

Ijinkan Aku Membagi Dunia Kita Dengannya, Suamiku!


Bismillahirrahmanirrahim…
“Akhwat tadi lho cantik yaa by, yang lewat tadi lho.” Aku mencolek suamiku yang sedang khusyuk di depan layar komputer.
“Mana?” langsung celingukan, tapi yang dicari sudah jauh mengayuh sepedahnya.
“Udah lewat”, kataku cuek.
“Waah…bisa tuh mi?” Suami menggodaku.
“Bisa apa?”
“Jadi yang kedua,” sambil cengengesan cuek kembali lagi ke layar komputer.
“Mau? Boleh, ntar aku coba cari yang tadi anak mana, tiap pagi juga lewat sini.”
“hahahah…” suami tertawa begitu lebar sambil mengelus kepalaku.
“Bukan nggak mau mi, tapi nggak sanggup. Belum berani lah, nanti aja kalo udah berani,” lanjutnya lagi.

Percakapan seperti ini bukan sekali dua kali aku lakukan dengan suami, sudah sering kali bahkan dihadapan mertua pun pernah dan sudah dipastikan suami dilarang keras. Walaupun pada awalnya aku dan suami hanyalah bercanda, namun suami juga tahu bahwa aku sangat serius bila dia mau menikah lagi, aku nggak akan melarangnya dan aku yang akan mencarikannya.
Wow? Hebat? Nggak tuh, apanya yang hebat kalo aku memang nggak akan melarang apa yang Allah bolehkan, toh memang Allah nggak mengharamkan asalkan suami mampu kan? Tapi dia bilang punya keberanian pun nggak, padahal sama sekali aku nggak akan menolaknya jika suatu saat tiba-tiba dia pulang ke rumah lalu memintaku melamarkan seseorang. Aku sudah siap , sudah ku siapkan hati dan pikiranku jauu….h sebelum suamiku untuk pertama kalinya menggodaku untuk dicarikan yang ke dua. Karena aku sadar, ada atupun nggak ada toh aku memang harus siap.
Kok gitu sih? Aku juga nggak tahu kenapa aku begitu nekat ingin memulai badai yang semua wanita sangat menjauhinya. Aku juga nggak paham aku begitu berani menantangnya dimana kebanyakan wanita begitu berani menentangnya. Ya…aku sering bilang ketika aku dan suami asyik berbicara tentang yang kedua, maka aku dengan lantang selalu berkata “ Berani nggak?” seperti bisa aku tebak suami akan bilang,” nggak sekarang, belum siap” artinya suatu saat dia akan siap dan ketika waktu itu tiba aku harus benar-benar siap.
Emang nggak cinta ya sama suami? Kalo ditanya cinta, siapa lagi makhluk dunia yang aku harus tunduk padanya selain Rosulullah? Tentu dia suamiku. Kalo aku nggak cinta, hancurlah akhiratku. Pernikahan tanpa adanya cinta yang terbangun sama saja menghadirkan setetes neraka di dunia. Betapa aku mencintainya sampai aku nggak pernah tahu harus mengungkapkan cintaku mulai dari mana. Apakah seperti itu bukan cinta? Lalu apa? Menurutku ini bukan hanya tentang cinta tapi ini tentang keyakinan.
Emang nggak sakit hati? Wanita mana yang nggak akan sakit hati kalo suaminya berduaan dengan wanita lain kecuali wanita yang nggak punya akal alias gila. Tapi cobalah pahami, kalo yang dipikirkan hanya sakit hati maka sudah nggak ada dunia di dunia ini. Karena yang dipikirkan selalu sakit hati, ibadah terlupakan, uring-uringan tiap hari, seolah-olah nggak ada lagi kebahagiaan. Lupa bahwa hidup ini untuk ibadah, jadi nggak ada lagi dunia di dunia ini, ya kan?
Jadi menurutku, kalo pun suamiku akan menemukan “madunya” aku hanya akan fokus pada ibadahku, bukan karena aku nggak sakit hati tapi dengan fokus dan mengingat ibadahku pada suami dan agama indah ini, aku yakin kok “madu” bukanlah masalah berarti yang harus menjadi tolak ukur sakit hati terbangun kecuali kalo sampai suamiku bermadu tanpa syariat, judul artikel ini harus diganti jadi – Ijinkan aku menjitakmu, suamiku!- (hehe)
Kok yakin banget sih? Aku yakin karena aku yakin dengan keyakinan suamiku. Aku tahu keyakinan suamiku dan aku
sangat percaya padanya bukan semata-mata aku tunduk padanya lalu aku jadi tunduk ketika dia mau “bermadu”,bukan itu. Tapi karena aku yakin ketika dia mampu maka dia benar-benar akan mampu menjalaninya.
So, aku akan berbagi duniaku dimana keluarga yang penuh keindahan, anak-anak yang lucu, dengan seseorang yang entah ada ataupun tak ada, entah dimana berada atau memang tak pernah ada. Tapi ketika waktu itu tiba, ijinkan aku membagi duniaku dengannya, suamiku! :)
Wallahua’alam bish shawwab.
PERNAHKAH KAMU MERASAKAN SEPERTI INI..?

Pernahkah engkau merasakan kesedihan ketika engkau tetap mencintai seseorang,
Meski engkau tahu dia sudah tidak sendiri lagi dan cintamu tidak mungkin berbalas?

Pernahkah engkau merasakan ketika engkau sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang engkau cintai,
Meski engkau tahu dia tetap pergi dan takkan pernah kembali lagi?

Pernahkah engkau merasakan hebatnya cinta?
Ketika engkau tetap tersenyum ketika terluka.
Ketika engkau tetap bahagia walau didalam hati menangis.
Ketika engkau tetap tersenyum disaat perpisahan.

Jujur aku pernah merasakannya..!!
Tapi aku mampu tersenyum meski hatiku terluka.
Karena aku yakin Allah tidak menciptakan dia untukku.

Aku pernah menangis ketika bahagia.
Karena aku takut kebahagiaan cinta itu akan sirna begitu saja.

Aku pernah bersedih ketika bersamanya.
Karena aku takut akan kehilangan dia pada suatu hari nanti.

Aku juga pernah tersenyum manis ketika berpisah dengannya.
Karena sekali lagi, aku percaya cinta tak harus memiliki.
Dan aku yakin Allah pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Jujur pula aku tetap bisa mencintainya.
Meski dia tak dapat aku rengkuh dalam kehidupanku.
Karena cinta memang bukan hanya ada di dalam raga.
Akan tetapi selalu bersemayam didalam jiwa.

Semua orang pasti pernah merasakan cinta.
Baik itu dari kedua orang tua.
Dari seorang sahabat.
Ataupun dari pasangan hidupnya.

✓ Untukmu yang sedang jatuh cinta.
Rawatlah cintamu dengan sebaik-baiknya.Karena pada hakekatnya cinta itu sangat indah. Tetaplah berhubungan di jalan-Nya. Jangan jadikan cintamu menjadi fitnah. Tapi jadikan cinta sebagai barokah.

✓ Untukmu yang terluka karena cinta.
Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar.
Suatu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit.
Bersabar dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.

✓ Untukmu yang tidak percaya akan cinta.
Bukalah pintu hatimu. Janganlah menutup mata akan kehadiran cinta yang ada di dunia.
Karena cinta yang suci akan membuat hidupmu menjadi ceria dan bahagia.

✓ Untukmu yang mendambakan cinta.
Bersabarlah dalam penantian kehadirannya. Karena cinta yang indah tidak terjadi dalam waktu sekejap.

Percayalah Allah telah mempersiapkan pasangan terbaik untukmu.
Insyaallah..

Selasa, 28 Mei 2013

Lebih Tahu Skuad Barca Atau Anak dan Istri Para Khulafaur Rasyidin

Lebih Tahu Skuad Barca Atau Anak dan Istri Para Khulafaur Rasyidin? Ketika diajukan pertanyaan: “Siapa saja nama anak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?”
Mungkin ada sebagian kita tidak tahu. Nama-nama anak beliau: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, Fatimah (Ibu mereka adalah Khadijah radhiallahu ‘anha) dan yang terakhir adalah Ibrahim (ibunya adalah Mariah Al-Qibtiyah, Budak beliau hadiah dari raja Mesir)
Kemudian jika diajukan pertanyaan:
“Siapa saja skuad Inti Barcelona?”
“siapa saja nama anggota boyband  SUJU?”
Tentu sebagian dari mereka yang Cinta dan ngefans akan hapal nama-nama mereka, hapal nama kecilnya, hapal julukannya bahkan hapal seluk-beluk kehidupan dan hobi mereka.
Nah, jika kita mengaku cinta dan ngefans terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamtentu kita tahu nama anak-anak beliau. Begitu juga jika kita mengaku cinta terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, tentu kita berusaha mengenal mereka dan meneladani sirah hidup mereka,
Berikut adalah nama-nama Anak dan Istri dari khulafaurRasyidin, agar kita bisa mengenal mereka dan mencontoh serta meneladani mereka.
Pertanyaan kepada Prof. Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah:
س24- هل كان الخلفاء الراشدون لديهم أكثر من زوجة ؟
Apakah khulafaur Rasyidin memiliki lebih dari satu Istri?
Jawaban:
جـ – نعم تزوج أبو بكر قتيلة بنت عبد العزى فولدت له عبد الله وأسماء ثم تزوج أم رومان وهي أم عائشة وعبد الرحمن ثم تزوج أسماء بنت عميس بعد جعفر بن أبي طالب فولدت له محمد بن أبي بكر وتزوج حبيبة بنت خارجة وهي أم ابنته أم كلثوم بنت أبي بكر – رضي الله عنه.
Ya, Abu Bakar menikahi:
1.Qutailah binti Abdul Uzza dan melahirkan: Abdullah dan Asma’
2.kemudian menikahi Ummu Rumman (binti Amir), ia adalah ibu dari ‘Aisyah dan Abdurrahman
3.kemudian menikahi Asma’ binti Umais (suami sebelumnya Ja’far bin Abi Thalib) dan melahirkanMuhammad bin Abu Bakar
4.Kemudian menikahi Habibah binti Kharijah, ia dalah ibu dari Ummu Kultsum binti Abu Bakarradhiallahu ‘anhu
أما عمر فتزوج زينب بنت مظعون وهي أم عبد الله وعبد الرحمن وحفصة وتزوج أم كلثوم بنت علي بن أبي طالب وهي أم زيد ورقية وتزوج أم كلثوم بنت جرول وهي أم زيد الأصغر وعبيد الله وتزوج جميلة بنت ثابت وهي أم عاصم وتزوج أم حكيم بنت الحارث فولدت له فاطمة وتزوج عاتكة بنت ابن عمه زيد بن عمرو وهي أم عياض بن عمر.
Adapun Umar, ia menikahi:
1.Zainab binti Mazun, ibu dari Abdullah, Abdurrahman dan Hafshah
2.Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, ibu dari Zaid dan Ruqayyah
3.Ummu Kultsum binti Jarul, ibu dari Zaid “kecil” dan Ubaidillah
4.Jamilah binti Tsabit, ibu dari ‘Ashim
5.Ummu Hakim binti Al-Harits, melahirkan Fatimah
6.Atikah binti Zaid bin ‘Amr (anak pamannya) ibu dari ‘Iyadh bin Umar
أما عثمان فتزوج رقية بنت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فماتت في غزوة بدر ثم تزوج أختها أم كلثوم فماتت في حياة النبي – صلى الله عليه وسلم – وتزوج فاطمة بنت غزوان وله منها أولاد، وتزوج أم عمر بنت جندب وفاطمة بنت الوليد وأم البنين بنت عيينة بن حصن ورملة بنت شيبة ونائلة بنت الفرافصة وكلهن لهن أولاد.
Adapun Ustman, ia menikahi:
1.Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal pada perang Badar
2.Saudarinya, Ummu Kultsum binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggal semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
3. Fatimah binti Ghazwan, punya beberapa anak
4. Ummu Amr binti Jandab
5. Fatimah binti Walid
6.  Ummul Banin binti Ainiyah
7. Ramlah bani Syaibah
8. Nailah binti Firafashah, semuanya memiliki beberapa anak
أما علي فتزوج فاطمة ثم خولة بنت جعفر الحنفية وليلى بنت مسعود وأم البنين بنت حزام وأسماء بنت عميس والصهباء بنت ربيعة وأمامة بنت أبي العاص بن الربيع وأم سعيد بنت عروة بن مسعود ومحياة بنت امرئ القيس عدي وله منهن أولاد، ولهم أولاد من الإماء كثير.
Adapun Ali, ia menikahi:
1.Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian
2. Kaulah binti Ja’far Al-Hanifiyah
3. Laila binti Mas’ud
4. Ummul Banin binti Hizam
5.Asma’ binti ‘Umais
6. Shahba’ binti Rubai’ah
7.Umamah binti Abi Al-Ash bin Ar-Rubai’
8.Ummu Sa’id binti ‘Urwah bin Mas’ud
9.Mihyah binti Imrail Qais Adi, semuanya memiliki beberapa anak

MAAFKAN AKU MENCINTAI SUAMI MU....

(Ada banyak akhwat yg selalu merasakan hal ini)


Sudah waktunya aku menikah. Itulah yang sering terlintas dalam jiwaku. Usiaku yang sudah beranjak 23 tahun, membuat keinginan dan asa itu semakin kuat dalam diri ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR.at-Tirmidzi, no. 1655 dan an-Nasa-I, no. 3120, dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani).

“…dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” Hadits ini, adalah salah satu motivasiku ingin segera menikah.

Terlebih lagi jika mengingat salah satu hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa ketaatan seorang istri terhadap suami termasuk sebab yang menyebabkan masuk surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Subhanallah, ini semakin menggodaku untuk menikah.

Ah, tapi dengan siapa? pikirku yang memang hingga saat ini belum menemukan ikhwan datang kepada orangtua untuk melamarku.

Aku yakin, Allah telah tetapkan seseorang untukku. Tapi, sebagai manusia biasa, aku merasa gundah. Semakin gundah hati ini.

Suatu hari aku mendapat sms dari kawan sekantor bahwa ada rapat bersama bos di sebuah café, di kota tetanggaku, tak jauh dari kotaku hanya memakan waktu beberapa jam.

Saat itu, adalah kedua kalinya aku mengikuti rapat. Hari pertama rapat dengan bos. Maklum aku kerja di tempat yang berbeda dari kru lainnya. Jadi, tentu saja jarang bertemu dengan kawan-kawan sepekerjaan lainnya.

Datanglah aku ke sebuah café bersama seorang akhwat yang lebih senior di kalangan karyawan akhwat.  Singkat cerita, kami pun rapat membahas masalah-masalah pekerjaan.

Ada rasa penasaran di hatiku kala itu. Ada seorang karyawan yang namanya sering disebut-sebut bos tak hadir dalam rapat. Dia ikhwan. Aku, bahkan temanku yang akhwat senior itu juga tidak pernah tahu tentangnya.

Ah, segera ku tepis rasa penasaran itu.

Rapat sempat tertunda karena panggilan shalat ashar telah datang. Tak lama setelah shalat ashar, datanglah seorang ikhwan. “Assalamu’alaykum,” katanya. “Wa’alaykumussalam,” jawab kami. Kemudian Bos memperkenalkannya pada kami. Sebut saja namanya Abdullah.

“Perkenalkan, ini Abdullah,” kata bos kepada kami.

Aku sempat melihatnya sekilas, namun tak memperhatikannya. Dalam hati terbersit “Oh ini Abdullah.” Ia adalah termasuk karyawan teladan di kantor kami.

Ternyata ia masih terlihat muda. Namun terkejutlah aku saat ia dipanggil “Ustadz.”

Wah, kurang sopan sekali jika aku jika memanggilnya “bang.” Bos, jika mendiskusikan soal pekerjaan, sering menyebut Abdullah. Ku pikir, ia hanya ikhwan biasa karena bos memanggilnya “bang Abdullah.” Maka, jika aku pun berdiskusi soal masalah pekerjaan yang berhubungan dengan Abdullah dengan bos, maka aku jadi ikut-ikutan bos dengan menyebutnya “bang Abdullah.”

Ada perasaan lucu sekaligus tak enak di hatiku saat tahu bahwa ia adalah seorang ustadz.

Tak lama, rapatpun selesai. Dan kami pulang ke rumah masing-masing. Masih, saat itu tak ada di antara kami yang tahu identitas asli Abdullah. Ia memang karyawan spesial, pikirku.

Saat dalam perjalanan pulang, ternyata hatiku masih penasaran dengan Abdullah. Aku bertanya kepada teman kerjaku, akhwat senior itu. Basa-basi aku berkata, “Ustadz Abdullah itu orang sini?” tanyaku. “engga tahu deh,” jawab temanku. Lalu temanku, yang juga jadi penasaran, bertanya kepada supir yang diminta bos mengantar kami. “Kurang tahu ya,” kata supir itu.

Mendengar jawaban mereka, semakin penasaranlah aku siapa Abdullah sebenarnya. Tapi, aku tak pernah berani menanyakan itu kepada bos. Lagipula tak ada urusannya dengan pekerjaan kami. Fokus saja pada pekerjaan masing-masing.

Aku dan Abdullah tak satu kantor. Bos adalah orang yang paham agama, sehingga karyawan akhwat dan ikhwan tidak kerja bersama dalam satu kantor. Alhamdulillah, aku merasa beruntung bekerja di sini.

Setelah rapat di café itu, sekitar satu bulan, Abdullah mulai lebih terbuka dengan berkomunikasi dengan karyawan lainnya. Sehingga hubungan antar karyawan lebih terkoordinasi. Terlebih, ia adalah ikhwan yang senior di kantor kami.

Bos pernah memberitahu kami, jika ada suatu hal yang tak kami pahami, kami bisa bertanya pada Ustadz Abdullah.

Singkat cerita, aku sempat beberapa kali berkomunikasi melalui pesan dengan Abdullah. Tentu saja karena ia memiliki urusan pekerjaan denganku.

Tak ku sangka, Abdullah telah mengetahui beberapa hal tentang diriku. Karena bos sering menceritakan tentang aku. Maklum, aku sempat sering kali sakit sehingga jadi bahan pembicaraan orang-orang kantor.

Hubungan kami sebagai sesama karyawan, berlangsung seperti biasanya. Hanya saja, pasca rapat itu, aku dan karyawan lainnya lebih mengenal Abdullah. Ternyata selain ia sangat rajin bekerja, ia juga sangat perhatian dan pengertian dengan karyawan lainnya. Dan, Abdullah ternyata telah menikah dan memiliki anak. Hanya saja telah bertahun-tahun ia tidak tinggal bersama dengan istri dan anaknya karena pekerjaan di sini.

Karyawan lain, termasuk leaderku, sering berkonsultasi padanya. Aku semakin melihat, memang ia adalah karyawan spesial.

Selang beberapa bulan, tak sampai dua bulan pasca rapat itu. Abdullah mengutarakan niatnya padaku, bahwa ia memiliki keinginan untuk meminangku!

Betapa kagetnya aku kala itu.

Tapi, ku pikir, awalnya ia hanya bercanda saja. Ah, diakan telah memiliki istri dan anak.

Tetapi, ia tegaskan bahwa ia memiliki keinginan memperistriku.

Masih tak yakin dan menganggap itu sebagai gurauan. Tapi, ternyata hatiku tak bisa melupakan itu begitu saja. Allah Maha Tahu segala isi hati.

Di satu sisi, aku sangat bahagia. Karena, saat itu aku memang sedang menanti-nanti ada ikhwan yang melamarku. Abdullah kian membuatku yakin bahwa niatnya itu bukan main-main, ia serius.

Tapi di sisi lain, betapa sedihnya aku. Saat menyadari bahwa ia telah menikah. Sungguh bukan aku menentang Syariat poligami yang dibolehkan Allah. Tetapi hambatan yang kami lihat sangat banyak.

Entahlah, aku merasa “klik” dengannya. Entah perasaan apa ini. Kami hanya bertemu sekali, itupun sekilas saja saat rapat. Abdullah mengatakan bahwa sejak pertama melihatku di café itu ia telah tertarik padaku. Padahal, kala itu ia tidak melihat wajahku karena ia berusaha menundukkan pandangannya.

Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati. Allah tahu bahwa akupun memiliki perasaan yang sama dengannya.

Setelah kami melihat hambatan-hambatan yang nampak begitu sulit dihadapi. Abdullah pun memutuskan untuk mundur. Ia katakan bahwa ia sudah tak sanggup memperjuangkanku. “Maaf atas kelemahanku,” katanya.

Perih di hati sudah tak bisa disembunyikan lagi. Dia yang Maha Melihat tahu butiran air mataku mengalir deras. “Yaa Allah, berikan hati ini kelapangan untuk menerima Qadarmu.”

Ku pikir, aku akan mudah melupakan. Tapi ternyata, semakin hari aku merasa hati ini semakin kuat. Semakin aku yakin bahwa dialah yang aku harapkan selama ini. Aku mengadu padaNya, bahwa aku mencintainya!

“Yaa Allah, aku mencintainya karena Engkau, aku ingin menikah dengannya!”

Tapi, garis tangan tak bisa ku tentang. Aku harus ikhlash dengan ketetapanNya.

Baiklah, biar ku ceritakan hambatan yang membuat Abdullah mundur dari memperjuangkan akhwat yang ia sebut “istimewa” ini. Sungguh, aku merasa tak sebaik seperti yang ia pikirkan tentang aku. Allah Maha Mengetahui. Semoga Allah mengampuniku atas apa yang orang lain katakan, dan menjadikanku lebih baik dari yang mereka katakan.

Abdullah, sudah ku katakan ia telah menikah. Ya, salah satu penyebab terberat baginya untuk tidak meminangku adalah karena istrinya tidak ingin dimadu. Abdullah khawatir, jika istrinya tidak ridho, maka akan terjadi perselisihan di keluarganya. Tak hanya antara Abdullah dan istrinya, tapi juga dengan keluarga istrinya dan keluarganya. Ia menjelaskan panjang lebar perihal hambatan yang ia hadapi.

Subhanallah, aku paham mengapa istrinya tak ingin dimadu. Mereka telah bertahun-tahun tak bersama karena Abdullah harus bertugas di luar kota. Sementara, pekerjaannya ini, tak memungkinkan baginya membawa anak dan istri. Aku terharu dengan pengorbanan istrinya. Kesabarannya, kesetiaannya, sungguh tak bisa dibandingkan dengan kesedihanku merelakan Abdullah.

Telah beberapa kali Abdullah menyinggung masalah poligami dengan istrinya. Tetapi tampaknya istri sangat keberatan dan tidak mau dimadu.

Aku tidak mencela kelemahan istrinya, apalagi membencinya. Aku sadar, mungkin jika aku berada di posisinya, akupun akan keberatan dimadu. Allah yang membolak-balikkan hati kita.

Betapapun perihnya hati ini karena tak bisa menikah dengan ikhwan yang aku cenderung padanya, tak bisa dibandingkan dengan pengorbanan istri Abdullah. Siapalah aku ini, hanya akhwat biasa yang ingin menikah demi menjaga kesucian diri dan menjadi istri shalihah demi menggapai ridho Allah. Qadarallah, bertemu ikhwan yang sudah menikah.

Mungkin, orang akan mencelaku karena mencintai suami orang. Tapi siapa yang bisa menahan hati yang berada di jari-jari Ar-Rahman? Dialah yang membolak balikkan hati. Jika boleh memilih, setiap wanita tidak akan mau mencintai orang yang sudah menikah. Tapi, aku hanyalah akhwat yang lemah yang tak kuat menahan rasa yang seharusnya lebih pantas ada setelah jalinan halal, menikah. Semoga Allah mengampuniku.

“Ukhti..maafkan aku mencintai suamimu. Aku memahami perasaanmu yang berat berbagi suami dengan saudarimu ini. Tapi, andai engkau pun mau memahami saudarimu ini. Bukan aku yang menetapkan ikhwan mana yang berniat menikahiku. Tapi Allah, yang Maha Pencipta. Qadarallah, suamimu lah yang memiliki niat menikahiku, menerima aku apa adanya. Tapi, jika memang Qadarallah mengatakan aku bukan untuknya, insya Allah aku ikhlash. Semoga engkau selalu berbahagia bersamanya. Uhibbuki fillah. Doaku menyertai kalian, insya Allah. Semoga Allah mengumpulkan kita di Jannah-Nya.”

Demikianlah, segores tinta dalam catatan hidupku. Cerita singkat yang mungkin akan dikatakan orang “roman picisan.”

Aku yakin, Allah telah menetapkan yang terbaik bagiku. Ini, menjadi renungan bagiku. Ini, insya Allah akan menjadi pelajaran bagiku kelak. Jika kelak, aku panjang umur dan menikah dengan ikhwan lain. Lalu, suatu saat suamiku ingin menikah lagi dengan akhwat yang ia cintai karena Allah, semoga Allah memberikan hatiku kelapangan untuk berbagi dengan saudariku.

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukhari)

Aku tidak mencela kekurangan saudariku, sungguh aku pun manusia yang memiliki banyak kekurangan.

Biarlah ku titipkan cinta ini kepada Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Semoga cinta ini semata-mata karenaNya. Sehingga bisa menjadi penyebab mendapatkan naunganNya di hari kiamat nanti.