Jumat, 14 Juni 2013

Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu

by Ibnu Qoyyim Al JAuziyah

CINTA merupakan perasaan yang Allah SWT anugerahkan kepada insan manusia. Namun terkadang manusia tidak mengerti hakikat cinta yang sesungguhnya. Beberapa yang terjadi justru manusia lebih mencintai pasangannya ketimbang sang pemberi cinta.

Cinta adalah kata yang sudah sangat sering dirasakan, diucapkan, dibicarakan dan banyak peristiwa yang mewarnai kehidupan bani adam dengan atas nama cinta, sehingga sudah tidak asing lagi dan mungkin tidak perlu definisi. Hanya saja disini akan sedikit diulas tentang kandungan maknanya dan beberapa macam pembagian jenis-jenis cinta agar lebih bisa membedakan dan lebih mengenal makna arti cinta sejati

Cinta dalam bahasa arab umumnya menggunakan kata habba-yuhibbu "حُبُّ"  hubbun, terdiri dari huruf (ح) ha dan  (ب) ba, dan memang sepertinya kata inilah yang tepat untuk menggambarkan maksud atau makna cinta. Ada banyak makna tergantung kepada apa disandarkan atau dinisbahkan. Bisa bermakna menyukai, menyenangi, menginginkan, menghendaki, menggemari, memenuhi, mengutamakan, mengasihi, menyayangi, memilih, ramah.

Selain itu ketika disebutkan kata "cinta" maka makna yang pertama kali muncul pada pikiran seseorang akan berbeda-beda tergantung kondisi zaman atau masa ketika itu, opini yang berkembang ketika itu, dan juga konteks pembicaraan dan pengetahuan orang tersebut.

Dan Al-Imam Ath-Thohawy dalam syarah aqidah ath-thohawiyah menyebutkan ada sepuluh tingkatan cinta (al-mahabbah) dengan maknanya masing-masing.  Adapun Al-Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin, 3/9 mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” Wallahu a'lam, demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah.


Memahami Makna Cinta, Cinta Yang Sempurna, Tujuh Tingkatan Cinta Dan Cinta Yang Tertinggi Derajatnya Bagi Si Pemilik Cinta



Umar bin Khothob pernah berkata kepada Rasulullah : ”Wahai Rasulullah sesungguhnya Engkau lebih aku cintai daripada seluruh manusia kecuali diriku sendiri.”

Rasulullah menjawab : ”Tidak wahai Umar. Hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Rasulullah memberi petunjuk agar Umar mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan puncak cintanya. Dan inilah cinta yang sempurna.

Setelah memahami makna cinta, untuk itu marilah menelusuri tingkatan-tingkatan cinta.
Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah berkata sesungguhnya cinta memiliki 7 tingkatan, di antaranya adalah :

’Alaqoh
Makna ’alaqoh adalah ikatan atau bisa juga diartikan dengan kecenderungan hati.
Disebut ’alaqoh karena orang tersebut memiliki hubungan atau ikatan dengan yang dicintainya.
Pada sebuah syair disebutkan :
Engkau telah membuatku terpikat, tertambat dan terikat, sejak pertama aku melihat. 

Ash-Shobabah
Secara harfiah dapat diartikan dengan menuangkan, mengalirkan atau kerinduan.
Disebut ash-shobabah karena hati orang tersebut dia curahkan dan dia tumpahkan kecintaannya kepada orang yang dicintainya.

Al-Ghorom
Artinya amat menyukai atau tertambat hatinya.
Yaitu melekatnya kecintaan dalam hatinya sampai cintanya tidak akan dipisahkan dari sesuatu yang dia cintai.
Seperti kata pepatah :
Bila cinta sudah melekat, gula jawa berasa coklat.

Al-IsyQ
Artinya sangat cinta (tertambat hatinya) kepada ……….., menempel, melekat.
Dari sini diturunkan pula kata : al-’asyaqoh yang artinya tumbuh-tumbuhan yang melilit pada pohon. (nah. Jadi jelas, kan, maksudnya)
Yaitu rasa cinta yang berlebihan dan mengandung syahwat. Oleh karena itu Allah tidak boleh disifati dengannya dan tidak boleh memberikan kalimat ini untuk Allah.

Asy-SyauQ

Maknanya cinta yang bergelora, menyandarkan.
Yaitu perginya hati kepada sesuatu yang dia cintai dengan sepenuhnya.

Rasulullah bersabda :

Barang siapa yang berharap ingin berjumpa dengan Allah, maka Allah pun akan berjumpa dengannya. [HR. Bukhori : 4/75 dan 7/65]

Allah ta’ala berfirman :
Barang siapa yang berharap (untuk) berjumpa dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. [QS. Al-Ankabut : 5]

Tatkala Allah mengetahui bahwa wali-wali Allah sangat merindukan untuk berjumpa dengan-Nya, hati-hati mereka tidak akan pergi kecuali kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengumpamakan kepada mereka tentang waktu yang telah dijanjikan. Sehingga hati hambanya merasa tenang.

At-Tatayyum
Artinya memperbudak, menundukkan, menguasai.
Yaitu penghambaan atau pemujaan seseorang terhadap yang dia cintai. Di dalamnya mengandung makna ketundukan dan menghinakan dirinya terhadap yang dicintai.
Oleh karenanya keadaan yang paling mulia bagi seorang hamba adalah al-Ubudiyyah yaitu penghambaan dan tidak ada tingkatan yang lebih mulia daripada itu.

Al-Khullah
Al khullah adalah kecintaan yang paling sempurna dan penghabisannya, sehingga tidak tersisa sedikitpun kecuali dia curahkan kepada yang dia cintai. Ini adalah kedudukan yang mulia khusus kepada Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad.

Sebagaimana sabda Rasulullah :
Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai khalil (hamba yang paling dicintai Allah) sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil. [HR. Muslim : 1216]

Pertanyaannya sekarang : seberapa besar porsi cinta yang kita persembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya?

Disadur dari buku ”Mayat-mayat Cinta” karya ’Amr bin Suroif al-Indunisy

Sementara jika diurutkan tingkatan dari jenis cinta tersebut, dari sumber yang berbeda kita akan menjumpai informasi sebagai berikut :

Menurut Ibnu Qayyim dalam bukunya yang berjudul "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu" ada enam tingkatan cinta, yaitu:

1. Peringkat pertama adalah Tatayyum
Tingkatan cinta yang paling tinggi dan merupakan hak Allah SWT, "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan- tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu (Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah) mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (Qs.2:65) Allahlah yang paling utama tiada tandingan tak ada bandingan. Posisinya tidak boleh digeser menjadi nomer dua atau bahkan tiga.Cinta kita kepada-Nya harus menjadi puncak dari segala cinta yang kita miliki.

2. Peringkat kedua adalah 'Isyk
Cinta ini hanya merupakan hak Rasulullah SAW. Cinta yang melahirkan sikap hormat, patuh, ingin selalu membelanya, ingin mengikutinya, mencontohnya, dll. Namaun, bukan untuk menghambakan diri kepadanya. Kita mencintai Rasulullah dengan segenap konsekuensinya. Kita akan dengan bangga menjalankan sunnah-sunnahnya dan mengkuti petunjuknya dalam mengamalkan agama ini. Kita juga akan mencintai khidupannya yang luhur dan penuh amal shalih. Kita rindu berjumpa dengannya karena kemuliaan yanga ada pada diri beliau. Namun, kecintaan kita bukanlah menuntut pada diri beliau. Namun, kecintaan kita bukanlah menuntut sebuah penghambaan. Kecintaan menuntut sebuah amal yang bisa meneladani akhlaknya. Cinta kita kepada Rasulullah mendorong kita untuk membela agama ini dengan kekuatan yang kita miliki. Demikian juga membela sunnahnya bila sunnahnya diinjak-injak oleh orang lain. Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.3:31)

3. Peringkat ketiga adalah Syauq
yaitu cinta antara mukmin dengan mukmin lainnya. Antara suami isteri, antara orang tua dan anak, yang membuahkan rasa mawaddah wa rahmah. Seorang suami harus mencintai isterinya dengan sepenuh hati. Demikian pula si isteri harus memberi cintanya kepada suaminya. Cinta yang tumbuh pada diri mereka akan menambah ketentraman hati dan ketenangan jiwa. Hidup akan lengkap, karena saling mengerti dan memahami. Manakala terjadi konflik atau perbedaan pendapat, akan mudah diselesaikan karena aspek cinta mereka yang begitu besar. Kadang boleh saja emosi meninggi, namun ia akan menjadi redam ketika cinta menjadi pertimbangan utama. Seorang ayah yang begitu perhatian kepada anaknya, mencurahkan cintanya kepada buah hatinya. Dia menyayangi nya dan rela bekerja siang dan malam untuk anak-anaknya. Selain karena ibadah kepada-Nya, dia melakukannya juga karena cinta.

4. Peringkat ke empat adalah Shababah
yaitu cinta sesama muslim yang melahirka ukhuwah Islamiyah. Cinta ini menuntut sebuah kesabaran untuk menerima perbedaan dan melihatnya sebagai sebuah hikmah yang berharga. Seperti kita ketahui saat ini sedikit perbedaan saja seringkali menimbulkan perpecahan. Berbeda takbiratul ihram, berbeda gerakan shalat, berbeda hari Idul Fitri atau Idul Adha kadang tidak disikapi secara dewasa. Sehingga masalah pun muncul dan membuat jurang pemisah yang teramat dalam antar pengikutnya. Belum lagi kalau kita lihat betapa banyaknya kelompok harakah Islamiyah yang bermunculan. BIla cinta ini ada, insya Allah segala perbedaan bisa disinergiskan. Tidak semua perbedaan harus dipaksa sama, tapi kadang hanya membutuhkan sedikit pengertian saja. Cinta ini harus dimunculkan sebagai sebentuk upaya untuk menciptakan kenyamanan hubungan dalam tubuh umat Islam.

5. Peringkat kelima 'Ithf (simpati)
yang ditujukan kepada sesama manusia. Rasa simpati ini melahirkan kecenderungan untuk menyelamatkan manusia, termasuk pula di dalamnya adalah berdakwah. Rasa ini seringkali muncul bila sisi kemanusian kita tersentuh. Di saat melhiat seorang anak kecil di sebuah gubuk dengan wajah penuh penderitaan, atau saat melihat korban musibah bencana alam berjatuhan, tentu saja mengetuk kepedulian kita yang terdalam. Sisi kemanusiaan kita menjadi tersentuh dan ingin menitikkan air mata. Hati kita tidak tega melihat sebuah penderitaan yang tak kunjung berakhir. Inilah bentuk simpati yang muncul dari hati yang paling dalam.

6. Peringkat ke-6 adalah cinta yang paling rendah dan sederhana
yaitu cinta atau keinginan selain kepada manusia:harta benda. Namun, seringkali keinginan ini sebatas intifa' (pendayagunaan/ pemanfaatan). Cinta jenis ini pula yang sering menggelincirkan manusia. Karena sifat harta memang selalu melenakan. Namun, bila kita cerdas,banyaknya harta benda seharusnya tidak menjadikan kita terlena. Sebaliknya, ia hanya menjadi sarana untuk meraih cinta yang sebenarnya yaitu cinta kepada Allah ta'ala.

Sumber Kutipan: Buku karya Burhan Sodiq dengan judul "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta!" Mengelola Cinta Tanpa Harus Terkena Dosa.

Ketika telah jelas, berikut ini adalah esensi dari pembagian cinta dari sudut pandang Islam :

Pembagian Cinta kepada Allah 
Berkata Ibnul qoyyim rahimahullah: Ada empat jenis cinta yang harus dibedakan masing-masingnya, dan akan sesatlah orang yang tidak dapat membedakannya.

1. Mencintai Allah 
dan tidak cukup dengan hal ini saja untuk dapat selamat dari adzab Allah dan mendapatkan pahalanya dikarenakan kaum musyrikin dan para ahli ibadah nashrani, yahudi dan selainnya juga mencintai Allah.

2. Mencintai perkara yang dicintai Allah, 
Kecintaan seperti adalah kecintaaan yang menggolongkan seseorang ke dalam islam, dan mengeluarkannya dari kekufuran dan orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling kuat dan kokoh kecintaannya dalam perkara ini.

3. Mencintai karena Allah 
Kecintaan ini adalah konsekwensi dari kecintaan kepada perkara yang dicintai Allah dan tidaklah tegak kecintaan kepada perkara yang dicintai Allah melainkan dengan kecintaan karena ikhlas kepada Allah dan karena mentaati Allah.

4. Kecintaan kepada sesuatu bersamaan dengan kecintaan kepada Allah  
yaitu kecintaan yang sama atau lebih dari kecintaan kepada Allah. Ini adalah kecintaan syirik dan semua orang yang mencintai sesuatu bersamaan dengan kecintaan kepada Allah bukan karena ikhlas kepada Allah dan bukan juga karena mentaati Allah, maka sungguh ia telah mensekutukan Allah. Inilah kecintaan kaum musyrikin.


Sementara itu, berikut ini adalah  Pembagian Cinta Berdasarkan Hukumnya 

1. Ibadah
yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada perkara yang dicintai Allah

Allah ta'ala berfirman: "adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah" [Al-baqaroh: 165]
Rasul shallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Tiga perkara yang apabila ada pada seorang hamba ia akan merasakan manisnya keimanan: (1)Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang dan tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah (3) dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk di ceburkan ke dalam neraka [HR.Bukhori: 16, Muslim: 43]

2. Kesyirikan
yaitu cinta kepada selain Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah atau bahkan lebih
Allah berfirman: "Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan (Allah), yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah" [Al-Baqaroh: 165]

3. Kemaksiatan
yaitu mencintai perkara yang haram, kebid'ahan, kemaksiatan, serta mencintai pelaku kebid'ahan, dan pengikut hawa nafsu, dan yang lainnya dari kecintaan yang menyelisihi syariat.

Allah berfirman: "Dan wanita-wanita di kota berkata: "Isteri Al Aziz [1] menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata."

4. Mubah
yaitu cinta tabiat, seperti mencintai anak-anak, keluarga, jiwa, harta, makan, tidur, dan perkara-perkara lain yang dibolehkan syariat. Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖوَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[2] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Namun seharusnya kecintaan pada perkara ini hanya sebatas kecintaan tabiat yang manusiawi. Apabila perkara-perkara tersebut menyibukkan, atau memalingkan manusia dari ketaatan kepada Allah dan menjadikannya meninggalkan beberapa perkara yang diwajibkan, maka kecintaan seperti ini termasuk kecintan maksiat. Terlebih lagi apabila kecintaan ini sampai melampaui batas dalam kehidupannya dan hatinya dan dia mencintainya seperti mencintai Allah atau bahkan lebih, maka kecintaan ini menjadi kecintaan syirik (kesyirikan).[3]
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ مَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْخاسِرُونَ
"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi." [Al-Munaafiqun: 9]

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” [An Nur: 37]



# Pembagian Cinta Kepada Wanita
Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa cinta terhadap wanita ada tiga jenis:

1. Yang pertamaCinta sebagai amalan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) dan ketaatan.
Cinta ini seperti cinta seorang pria kepada istri dan budak wanitanya (jariyah). Ini adalah cinta yang bermanfaat, karena lebih kuat mengajak kepada tujuan disyariatkannya nikah oleh Allah, lebih menahan pandangan dan hati dari melihat-lihat kepada yang bukan istrinya. Oleh sebab itu pemilik cinta ini dipuji di sisi Allah dan manusia.

2. Yang kedua. Adalah cinta yang menjadi kemurkaan Allah dan jauh dari rahmat-Nya
Inilah cinta yang lebih berbahaya bagi seorang manusia terhadap dunia dan agamanya, yaitu cinta kepadamurdan (laki-laki berparas wanita, baik masih anak-anak atau remaja putra yang belum tumbuh janggut dan kumisnya). Tidaklah diuji dengan keadaan ini kecuali orang-orang yang memang jatuh derajatnya disisi Allah. Orang seperti ini diusir dari pintu-Nya, bahkan hatinya dijauhkan dari-Nya. Ini adalah tabir paling tebal antara seseorang dan Allah.

Sebagaiman kata sebagian salaf (pendahuluan yang shaleh), "Apabila seorang hamba sudah jatuh nilainya dalam pandangan Allah, niscaya Allah menimpakan bala kepadanya berupa perasaan cinta terhadap murdan."

Cinta seperti inilah yang membawa umat nabi Luth kepada apa yang mereka rasakan. Tidaklah mereka mengalaminya kecuali dari arah 'isyq ini. Allah berfirman:
لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ
"Demi umurmu (Muhammad) Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)"[al-Hijr: 72]

Kata 'isyq sendiri artinya ifrath fil mahabbah (berlebihan dalam mencintai), yakni berkuasanya ma'syuq (yang dicintai) atas hati 'asyiq (yang mencintai) hingga ma'syuq tidak pernah hilang sekejap pun dalam khayal dan pikirannya. Awalnya mudah dan manis. Di tengah, dia adalah kegelisahan dan kesibukan hati (memikirkan si dia) dan racun. Adapun akhir dari 'isyq ini adalah celaan dan pembunuhan apabila pelakunya tidak mendapatkan pertolongan atau perhatian dari Allah.

Obat penyakit ini adalah istighatsah kepada Yang membolak-balikkan hati, jujur mencari perlindungan kepada-Nya, menyibukkan diri dengan zikir kepada-Nya, mengganti cinta itu dengan cinta kepada-Nya, dan dekat kepada-Nya, memikirkan kesengsaraan yang ditimbulkan oleh rasa 'isyq ini, kelezatan yang hilang karenanya, sehingga mengakibatkan kehilangan cinta yang lebih besar, mendapat sebesar-besar sesuatu yang tidak disukai.

Jika jiwa seseorang melangkah kepada perasaan tersebut, bahkan mengutamakannya hendaklah dia bertakbir  untuk jiwanya empat kali sebagaimana takbir shalat jenazah, karena hatinya telah mulai mati, atau telah mati. Hendaknya dia mengetahui bahwa petaka sedang mengepungnya.

3. Yang ketiga, adalah cinta yang mubah, yang tidak dapat dikuasai
Hal ini seperti cinta seseorang yang diberitakan kepadanya sosok wanita yang cantik atau dia melihatnya secara tidak sengaja, lalu hatinya terpikat dan menumbuhkan cinta. Rasa cinta itu tidak pula melahirkan satu kemaksiatan pun. Cinta seperti ini tidak mungkin dikuasai, tidak pula ada hukumnya. Tetapi, yang berguna dalam menghadapinya adalah menepisnya dan menyibukkan diri dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Wajib pula menyembunyikan dan menjaga kehormatan dirinya serta bersabar atas ujian yang diterimanya ini.

Kalau sudah demikian Allah akan memberinya pahala dan memberinya ganti karena kesabaran dan sikap 'iffah-nya (menjaga diri) serta menolak menaati hawa nafsunya dan lebih mendahulukan keridhaan Allah serta apa-apa yang ada disisi-Nya.

Demikianlah cinta-cinta yang kita baca. Semoga menjadi furqaan dalam hidup kita, dapat meluruskan niat hidup menjadi penjelas tujuan hidup kita di dunia. Maka orientasi manusia, sebagai hamba, sebagai umat, sebagai pribadi dalam lingkungan sosial adalah fokus untuk apa dan karena siapa.

Selasa, 11 Juni 2013

Ijinkan Aku Membagi Dunia Kita Dengannya, Suamiku!


Bismillahirrahmanirrahim…
“Akhwat tadi lho cantik yaa by, yang lewat tadi lho.” Aku mencolek suamiku yang sedang khusyuk di depan layar komputer.
“Mana?” langsung celingukan, tapi yang dicari sudah jauh mengayuh sepedahnya.
“Udah lewat”, kataku cuek.
“Waah…bisa tuh mi?” Suami menggodaku.
“Bisa apa?”
“Jadi yang kedua,” sambil cengengesan cuek kembali lagi ke layar komputer.
“Mau? Boleh, ntar aku coba cari yang tadi anak mana, tiap pagi juga lewat sini.”
“hahahah…” suami tertawa begitu lebar sambil mengelus kepalaku.
“Bukan nggak mau mi, tapi nggak sanggup. Belum berani lah, nanti aja kalo udah berani,” lanjutnya lagi.

Percakapan seperti ini bukan sekali dua kali aku lakukan dengan suami, sudah sering kali bahkan dihadapan mertua pun pernah dan sudah dipastikan suami dilarang keras. Walaupun pada awalnya aku dan suami hanyalah bercanda, namun suami juga tahu bahwa aku sangat serius bila dia mau menikah lagi, aku nggak akan melarangnya dan aku yang akan mencarikannya.
Wow? Hebat? Nggak tuh, apanya yang hebat kalo aku memang nggak akan melarang apa yang Allah bolehkan, toh memang Allah nggak mengharamkan asalkan suami mampu kan? Tapi dia bilang punya keberanian pun nggak, padahal sama sekali aku nggak akan menolaknya jika suatu saat tiba-tiba dia pulang ke rumah lalu memintaku melamarkan seseorang. Aku sudah siap , sudah ku siapkan hati dan pikiranku jauu….h sebelum suamiku untuk pertama kalinya menggodaku untuk dicarikan yang ke dua. Karena aku sadar, ada atupun nggak ada toh aku memang harus siap.
Kok gitu sih? Aku juga nggak tahu kenapa aku begitu nekat ingin memulai badai yang semua wanita sangat menjauhinya. Aku juga nggak paham aku begitu berani menantangnya dimana kebanyakan wanita begitu berani menentangnya. Ya…aku sering bilang ketika aku dan suami asyik berbicara tentang yang kedua, maka aku dengan lantang selalu berkata “ Berani nggak?” seperti bisa aku tebak suami akan bilang,” nggak sekarang, belum siap” artinya suatu saat dia akan siap dan ketika waktu itu tiba aku harus benar-benar siap.
Emang nggak cinta ya sama suami? Kalo ditanya cinta, siapa lagi makhluk dunia yang aku harus tunduk padanya selain Rosulullah? Tentu dia suamiku. Kalo aku nggak cinta, hancurlah akhiratku. Pernikahan tanpa adanya cinta yang terbangun sama saja menghadirkan setetes neraka di dunia. Betapa aku mencintainya sampai aku nggak pernah tahu harus mengungkapkan cintaku mulai dari mana. Apakah seperti itu bukan cinta? Lalu apa? Menurutku ini bukan hanya tentang cinta tapi ini tentang keyakinan.
Emang nggak sakit hati? Wanita mana yang nggak akan sakit hati kalo suaminya berduaan dengan wanita lain kecuali wanita yang nggak punya akal alias gila. Tapi cobalah pahami, kalo yang dipikirkan hanya sakit hati maka sudah nggak ada dunia di dunia ini. Karena yang dipikirkan selalu sakit hati, ibadah terlupakan, uring-uringan tiap hari, seolah-olah nggak ada lagi kebahagiaan. Lupa bahwa hidup ini untuk ibadah, jadi nggak ada lagi dunia di dunia ini, ya kan?
Jadi menurutku, kalo pun suamiku akan menemukan “madunya” aku hanya akan fokus pada ibadahku, bukan karena aku nggak sakit hati tapi dengan fokus dan mengingat ibadahku pada suami dan agama indah ini, aku yakin kok “madu” bukanlah masalah berarti yang harus menjadi tolak ukur sakit hati terbangun kecuali kalo sampai suamiku bermadu tanpa syariat, judul artikel ini harus diganti jadi – Ijinkan aku menjitakmu, suamiku!- (hehe)
Kok yakin banget sih? Aku yakin karena aku yakin dengan keyakinan suamiku. Aku tahu keyakinan suamiku dan aku
sangat percaya padanya bukan semata-mata aku tunduk padanya lalu aku jadi tunduk ketika dia mau “bermadu”,bukan itu. Tapi karena aku yakin ketika dia mampu maka dia benar-benar akan mampu menjalaninya.
So, aku akan berbagi duniaku dimana keluarga yang penuh keindahan, anak-anak yang lucu, dengan seseorang yang entah ada ataupun tak ada, entah dimana berada atau memang tak pernah ada. Tapi ketika waktu itu tiba, ijinkan aku membagi duniaku dengannya, suamiku! :)
Wallahua’alam bish shawwab.
PERNAHKAH KAMU MERASAKAN SEPERTI INI..?

Pernahkah engkau merasakan kesedihan ketika engkau tetap mencintai seseorang,
Meski engkau tahu dia sudah tidak sendiri lagi dan cintamu tidak mungkin berbalas?

Pernahkah engkau merasakan ketika engkau sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang engkau cintai,
Meski engkau tahu dia tetap pergi dan takkan pernah kembali lagi?

Pernahkah engkau merasakan hebatnya cinta?
Ketika engkau tetap tersenyum ketika terluka.
Ketika engkau tetap bahagia walau didalam hati menangis.
Ketika engkau tetap tersenyum disaat perpisahan.

Jujur aku pernah merasakannya..!!
Tapi aku mampu tersenyum meski hatiku terluka.
Karena aku yakin Allah tidak menciptakan dia untukku.

Aku pernah menangis ketika bahagia.
Karena aku takut kebahagiaan cinta itu akan sirna begitu saja.

Aku pernah bersedih ketika bersamanya.
Karena aku takut akan kehilangan dia pada suatu hari nanti.

Aku juga pernah tersenyum manis ketika berpisah dengannya.
Karena sekali lagi, aku percaya cinta tak harus memiliki.
Dan aku yakin Allah pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku.

Jujur pula aku tetap bisa mencintainya.
Meski dia tak dapat aku rengkuh dalam kehidupanku.
Karena cinta memang bukan hanya ada di dalam raga.
Akan tetapi selalu bersemayam didalam jiwa.

Semua orang pasti pernah merasakan cinta.
Baik itu dari kedua orang tua.
Dari seorang sahabat.
Ataupun dari pasangan hidupnya.

✓ Untukmu yang sedang jatuh cinta.
Rawatlah cintamu dengan sebaik-baiknya.Karena pada hakekatnya cinta itu sangat indah. Tetaplah berhubungan di jalan-Nya. Jangan jadikan cintamu menjadi fitnah. Tapi jadikan cinta sebagai barokah.

✓ Untukmu yang terluka karena cinta.
Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar.
Suatu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit.
Bersabar dan berdoalah karena cinta yang lain akan datang dan menghampirimu.

✓ Untukmu yang tidak percaya akan cinta.
Bukalah pintu hatimu. Janganlah menutup mata akan kehadiran cinta yang ada di dunia.
Karena cinta yang suci akan membuat hidupmu menjadi ceria dan bahagia.

✓ Untukmu yang mendambakan cinta.
Bersabarlah dalam penantian kehadirannya. Karena cinta yang indah tidak terjadi dalam waktu sekejap.

Percayalah Allah telah mempersiapkan pasangan terbaik untukmu.
Insyaallah..