Kamis, 15 Maret 2012

DIKTATOR DI  SURIAH LAKNATULLAH ALAIHI

Perlawanan kaum Muslim di Syria terahdap rezim Basyar telah berlangsung hapir setahun. Organisasi kemanusiaan menyebut minimal sudah 10 ribu orang tewas termasuk anak-anak, orang tua, dan para wanita tak bersenjata. Korban cacat dan luka mencapai puluhan ribu. Sementara yang dipenjara diperkirakan lebih dari 150 ribu orang.
Rezim al-Assad, Rezim Kufur
Basyar al-Assad berasal dari kelompok syiah Nushairiyah, didirikan oleh Muhammad bin Nushair An-Numairi (mati tahun 270 H). Sekte ini memiliki pandangan akidah dan ajaran yang menyimpang dari Islam. Diantaranya mereka:
Meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai Ilah (Tuhan). Karena keyakinan inilah mereka juga disebut ‘Alawiyun.
Meyakini bahwa Allah Sang Pencipta menitis atau bersemayam pada diri makhluk.
Tidak mengakui haji, zakat dan puasa Ramadhan.
Jumlah rakaat dan tata cara shalat mereka menyalahi syariah yaitu tanpa sujud dan kadang-kadang ada ruku’. Mereka juga tidak mengakui shalat jumat.
Mereka mengagungkan dan membolehkan khamr, menghalalkan mangawini mahram, membolehkan zina, homoseksual dan lesbianisme.
Mereka sangat membenci para sahabat Nabi ra.
Mereka memuji dan mengagungkan Abdurrahman bin Muljim, pembunuh Ali bin Abi Thalib, karena mereka anggap telah berjasa besar membebaskan Zat Ketuhanan Ali dari jasad manusiawinya.
Dan masih banyak ajaran mereka lainnya yang menyimpang dari Islam baik pada sisi akidah maupun syariah. Sehingga menurut para ulama mereka adalah kelompok yang kafir. Vonis ini disepakati oleh semua ulama kaum Muslim.
Menjadi Bencana Sejak Awal
Kelompok Nushairiyah atau ‘Alawiyun ini sejak kemunculannya menjadi bencana bagi kaum Muslim. Dahulu, kelompok ini berkolusi dengan pasukan salib dan pasukan Tatar untuk menghancurkan kaum Muslim. Juga dengan Timur Lenk, penganut syiah ekstrem lainnya, melakukan pembantaian keji terhadap kaum Muslim tahun 822 H.
Pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah, kelompok ini bersekongkol dengan Prancis menentang kekuasaan Islam. Pada tahun 1920, Prancis resmi menggunakan sebutan ‘Alawiyun untuk kelompok ini. Tahun itu, Prancis bersekongkol dengan para pemimpin Nushairiyah mendirikan negara ‘Alawiyun di Ladzikiyah. Sulaiman al-Mursyid (pemimpin besar Nushairiyah saat itu) yang mengaku Tuhan sebagai presidennya. Negara Ladzikiyah ini hancur dengan matinya Mujib al-Mursyid (pengganti Sulaiman al-Mursyid) tahun 1951 oleh intelijen Suriah.
Lalu kelompok Nushairiyah ini bergabung ke partai Ba’ats dan berhasil masuk ke pemerintahan. Saat Hafez al-Assad (pemimpin Nushairiyah) menjabat menteri pertahanan tahun 1967, ia berkolusi dengan zionis Yahudi dalam perang Arab 67.
Dengan partai Ba’ats, mereka melakukan kudeta pada tahun 1971 dan Hafez al-Assad menjadi Perdana Menteri lalu menjadi Presiden. Sejak saat itu, kelompok Nushairiyah yang hanya 10% dari penduduk Suriah, dengan pemimpinnya Hafez al-Assad bertindak diktator dan banyak melakukan pembantai atas kaum Muslim, diantaranya:
- Tahun 1976, di Kamp pengungsi Palestina Tel Za’tar, berkolusi dengan kelompok kristen Maronit. Sebanyak 6000 orang tewas dibantai.
- Tahun 1980, di penjara Tadammur. Sedikitnya 700 orang tewas di bantai.
- Agustus 80, di kota Aleppo, 83 orang tewas dibantai.
- Maret 80, di Jasr asy-Syughur, Idlib utara, 100 orang dibantai. Korban yang selamat menceritakan, seorang anak kecil belum 6 tahun yang dibelah menjadi dua bagian di depan ibunya sehingga si ibu langsung meninggal.
- Februari 82, kota Hama dikepung dan dihancurkan. Hampir 40 ribu orang dibantai, 15 ribu ditawan dan 150 ribu terusir. Tiga kota hancur lebur.
- Mei 85, di Kamp pengungsi Shabra dan Syatila, 3100 orang tewas dibantai.
Basyar Pewaris Kebengisan Sang Ayah
Melihat tabiat rezim kafir al-Assad senior (Hafez) maka tak heran jika rezim al-Assad junior (Basyar al-Assad) yang kafir itu juga mewarisi kebengisan bapaknya. Sejak meletus revolusi, rezim Basyar menghadapi rakyatnya yang tak bersenjata menggunakan berbagai macam senjata hingga senjata berat. Satu demi satu kota dikepung, dihujani artileri, pintu-pintu rumah di dobrak, penduduknya di bantai termasuk anak-anak, wanita dan orang tua. Laki-laki dewasa yang tidak dibunuh, ditangkapi dan ditahan. Jika satu kota selesai, hal sama dilanjutkan ke kota berikutnya.
Kebrutalan rezim Basyar, pasukan dan milisi Shabbiha-nya, telah melampaui batas. Di kota Homsh saja terdapat 500-an orang cacat, tangan atau kakinya buntung, akibat siksaan rezim Basyar. Wanita, anak-anak dan orang tua pun tak luput dari kebengisan mereka.
Seorang perempuan kepada wartawan BBC Paul Wood di pinggiran kota Homs mengatakan, tentara menggorok leher anaknya yang baru berusia 12 tahun pada Jumat (2/3), di Baba Amr. Menurutnya, ada lagi 35 pria dan anak-anak dari wilayahnya yang juga sudah ditahan dan dibunuh. Seorang perempuan yang harus berjalan kaki selama tiga hari dalam upaya menyelamatkan diri, mengatakan tentara pemerintah menciduk 36 pria dan anak-anak dari satu wilayah lalu membantai mereka. Seorang mantan anggota militer Suriah yang membelot mengatakan, mereka disuruh menembak siapa saja yang bergerak tak peduli sipil atau militer (bbc, 6/2).
Menentukan Sikap
Hanya ada satu kata yang pantas, rezim Basyar kafir dan rezim yang sama di negeri muslim lainnya harus dijungkalkan. Untuk itu tidak boleh bersandar kepada DK PBB. Mengharap DK PBB untuk menyelesaikan krisis di Suria, juga di negeri muslim lain, berarti meletakkan problema kaum muslimin di tangan musuh. Juga berarti membiarkan persoalan kaum Muslimin sebagai obyek tawar menawar, konsesi, konspirasi dan pemaksaan syarat-syarat yang hanya akan menimbulkan mudharat bagi kaum muslimin karena langkah itu pasti akan makin menjauhkan negeri muslim itu kepada identitas Islamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar