DIKTATOR DI SURIAH LAKNATULLAH ALAIHI
Perlawanan kaum Muslim di Syria terahdap rezim Basyar telah
berlangsung hapir setahun. Organisasi kemanusiaan menyebut minimal sudah
10 ribu orang tewas termasuk anak-anak, orang tua, dan para wanita tak
bersenjata. Korban cacat dan luka mencapai puluhan ribu. Sementara yang
dipenjara diperkirakan lebih dari 150 ribu orang.
Rezim al-Assad, Rezim Kufur
Basyar al-Assad berasal dari kelompok syiah Nushairiyah, didirikan
oleh Muhammad bin Nushair An-Numairi (mati tahun 270 H). Sekte ini
memiliki pandangan akidah dan ajaran yang menyimpang dari Islam.
Diantaranya mereka:
Meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai Ilah (Tuhan). Karena keyakinan inilah mereka juga disebut ‘Alawiyun.
Meyakini bahwa Allah Sang Pencipta menitis atau bersemayam pada diri makhluk.
Tidak mengakui haji, zakat dan puasa Ramadhan.
Jumlah rakaat dan tata cara shalat mereka menyalahi syariah yaitu tanpa
sujud dan kadang-kadang ada ruku’. Mereka juga tidak mengakui shalat
jumat.
Mereka mengagungkan dan membolehkan khamr, menghalalkan mangawini mahram, membolehkan zina, homoseksual dan lesbianisme.
Mereka sangat membenci para sahabat Nabi ra.
Mereka memuji dan mengagungkan Abdurrahman bin Muljim, pembunuh Ali bin
Abi Thalib, karena mereka anggap telah berjasa besar membebaskan Zat
Ketuhanan Ali dari jasad manusiawinya.
Dan masih banyak ajaran mereka lainnya yang menyimpang dari Islam baik
pada sisi akidah maupun syariah. Sehingga menurut para ulama mereka
adalah kelompok yang kafir. Vonis ini disepakati oleh semua ulama kaum
Muslim.
Menjadi Bencana Sejak Awal
Kelompok Nushairiyah atau ‘Alawiyun ini sejak kemunculannya menjadi
bencana bagi kaum Muslim. Dahulu, kelompok ini berkolusi dengan pasukan
salib dan pasukan Tatar untuk menghancurkan kaum Muslim. Juga dengan
Timur Lenk, penganut syiah ekstrem lainnya, melakukan pembantaian keji
terhadap kaum Muslim tahun 822 H.
Pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah, kelompok ini bersekongkol dengan
Prancis menentang kekuasaan Islam. Pada tahun 1920, Prancis resmi
menggunakan sebutan ‘Alawiyun untuk kelompok ini. Tahun itu, Prancis
bersekongkol dengan para pemimpin Nushairiyah mendirikan negara
‘Alawiyun di Ladzikiyah. Sulaiman al-Mursyid (pemimpin besar Nushairiyah
saat itu) yang mengaku Tuhan sebagai presidennya. Negara Ladzikiyah ini
hancur dengan matinya Mujib al-Mursyid (pengganti Sulaiman al-Mursyid)
tahun 1951 oleh intelijen Suriah.
Lalu kelompok Nushairiyah ini bergabung ke partai Ba’ats dan berhasil
masuk ke pemerintahan. Saat Hafez al-Assad (pemimpin Nushairiyah)
menjabat menteri pertahanan tahun 1967, ia berkolusi dengan zionis
Yahudi dalam perang Arab 67.
Dengan partai Ba’ats, mereka melakukan kudeta pada tahun 1971 dan
Hafez al-Assad menjadi Perdana Menteri lalu menjadi Presiden. Sejak saat
itu, kelompok Nushairiyah yang hanya 10% dari penduduk Suriah, dengan
pemimpinnya Hafez al-Assad bertindak diktator dan banyak melakukan
pembantai atas kaum Muslim, diantaranya:
- Tahun 1976, di Kamp pengungsi Palestina Tel Za’tar, berkolusi
dengan kelompok kristen Maronit. Sebanyak 6000 orang tewas dibantai.
- Tahun 1980, di penjara Tadammur. Sedikitnya 700 orang tewas di bantai.
- Agustus 80, di kota Aleppo, 83 orang tewas dibantai.
- Maret 80, di Jasr asy-Syughur, Idlib utara, 100 orang dibantai.
Korban yang selamat menceritakan, seorang anak kecil belum 6 tahun yang
dibelah menjadi dua bagian di depan ibunya sehingga si ibu langsung
meninggal.
- Februari 82, kota Hama dikepung dan dihancurkan. Hampir 40 ribu
orang dibantai, 15 ribu ditawan dan 150 ribu terusir. Tiga kota hancur
lebur.
- Mei 85, di Kamp pengungsi Shabra dan Syatila, 3100 orang tewas dibantai.
Basyar Pewaris Kebengisan Sang Ayah
Melihat tabiat rezim kafir al-Assad senior (Hafez) maka tak heran
jika rezim al-Assad junior (Basyar al-Assad) yang kafir itu juga
mewarisi kebengisan bapaknya. Sejak meletus revolusi, rezim Basyar
menghadapi rakyatnya yang tak bersenjata menggunakan berbagai macam
senjata hingga senjata berat. Satu demi satu kota dikepung, dihujani
artileri, pintu-pintu rumah di dobrak, penduduknya di bantai termasuk
anak-anak, wanita dan orang tua. Laki-laki dewasa yang tidak dibunuh,
ditangkapi dan ditahan. Jika satu kota selesai, hal sama dilanjutkan ke
kota berikutnya.
Kebrutalan rezim Basyar, pasukan dan milisi Shabbiha-nya, telah
melampaui batas. Di kota Homsh saja terdapat 500-an orang cacat, tangan
atau kakinya buntung, akibat siksaan rezim Basyar. Wanita, anak-anak dan
orang tua pun tak luput dari kebengisan mereka.
Seorang perempuan kepada wartawan BBC Paul Wood di pinggiran kota
Homs mengatakan, tentara menggorok leher anaknya yang baru berusia 12
tahun pada Jumat (2/3), di Baba Amr. Menurutnya, ada lagi 35 pria dan
anak-anak dari wilayahnya yang juga sudah ditahan dan dibunuh. Seorang
perempuan yang harus berjalan kaki selama tiga hari dalam upaya
menyelamatkan diri, mengatakan tentara pemerintah menciduk 36 pria dan
anak-anak dari satu wilayah lalu membantai mereka. Seorang mantan
anggota militer Suriah yang membelot mengatakan, mereka disuruh menembak
siapa saja yang bergerak tak peduli sipil atau militer (bbc, 6/2).
Menentukan Sikap
Hanya ada satu kata yang pantas, rezim Basyar kafir dan rezim yang
sama di negeri muslim lainnya harus dijungkalkan. Untuk itu tidak boleh
bersandar kepada DK PBB. Mengharap DK PBB untuk menyelesaikan krisis di
Suria, juga di negeri muslim lain, berarti meletakkan problema kaum
muslimin di tangan musuh. Juga berarti membiarkan persoalan kaum
Muslimin sebagai obyek tawar menawar, konsesi, konspirasi dan pemaksaan
syarat-syarat yang hanya akan menimbulkan mudharat bagi kaum muslimin
karena langkah itu pasti akan makin menjauhkan negeri muslim itu kepada
identitas Islamnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar